Instruksi.co.id, Tanggamus — Jembatan Gantung Merah Putih yang menghubungkan Pekon Tanjung Raja dan Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Cukuh Balak, Tanggamus, mulai direnovasi setelah bertahun-tahun mengalami kerusakan.
Perbaikan dilakukan secara gotong royong oleh Polres Tanggamus bersama TNI, pemerintah daerah, Forkopimcam, relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan masyarakat, Selasa (1/9/2026).
Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko turun langsung memimpin proses renovasi. Perbaikan meliputi penggantian lantai papan serta pengecatan tiang dan seling baja jembatan.
Selain itu, Polres Tanggamus memasang dua unit lampu tenaga surya untuk membantu penerangan jembatan pada malam hari.
Rahmad mengatakan, kondisi jembatan menjadi perhatian karena selama ini masih digunakan masyarakat meski lantainya mengalami kerusakan.
“Untuk mandor ataupun tukangnya benar-benar dipastikan pekerjaannya kuat dan tahan lama. Kalau ada material yang tidak kuat, nanti kita ganti,” kata Rahmad.
Menurutnya, jembatan tersebut merupakan akses penting bagi warga Pekon Tanjung Raja dan Pekon Tanjung Jati. Sekitar 200 kepala keluarga menggunakan akses tersebut untuk aktivitas sehari-hari, termasuk menuju fasilitas pendidikan seperti SD dan SMP.
“Jembatan ini menghubungkan Pekon Tanjung Jati dengan Tanjung Raja. Penggunanya warga sekitar, kurang lebih 200 KK, dan juga menghubungkan ke sekolah, ada SD dan SMP,” ujarnya.
Akses tersebut semakin penting saat musim hujan. Belum tersedianya jembatan yang dapat dilalui kendaraan roda empat membuat warga harus menggunakan jalur bawah sungai ketika kondisi memungkinkan.
“Kalau musim hujan atau banjir, jembatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” kata Rahmad.
Kondisi jembatan yang rusak juga sebelumnya beberapa kali menyebabkan warga terjatuh saat melintas.
Kepala Pekon Tanjung Jati Irwansyah mengatakan, kerusakan jembatan telah berlangsung sekitar empat hingga lima tahun. Warga tetap menggunakannya karena menjadi salah satu akses utama antara kedua pekon.
“Kalau korban jiwa tidak ada, tetapi korban luka dan patah sudah pernah ada. Kalau diingat-ingat, mungkin sudah sekitar 10 kali,” ungkap Irwansyah.
Menurutnya, warga selama ini melakukan perbaikan secara swadaya agar jembatan tetap dapat digunakan. Namun, saat banjir, kondisi tersebut membuat risiko bagi warga semakin tinggi.
“Selama rusak ini warga tetap melintas di jembatan. Kadang mencari celah karena memang jalan satu-satunya harus dilewati ketika banjir. Mau tidak mau tetap menggunakan jembatan ini,” katanya.
Irwansyah memperkirakan setelah diperbaiki, aktivitas warga yang melintas dapat mencapai sekitar 700 orang per hari. Penggunanya tidak hanya berasal dari dua pekon, tetapi juga masyarakat dari wilayah Kelumbayan dan kecamatan lainnya.
Hal senada disampaikan Kepala Pekon Tanjung Raja Karnilas Farontaka. Ia mengatakan jembatan tersebut juga menjadi jalur lintas masyarakat dari sejumlah wilayah.
“Jembatan ini bukan hanya penghubung Tanjung Raja dan Tanjung Jati saja, melainkan penghubung antarkawasan karena ini jalur lintas khusus. Jadi penggunanya umum, dari berbagai daerah banyak yang melewati jembatan ini,” ujarnya.
Karnilas mengatakan, kerusakan jembatan selama ini membahayakan warga. Beberapa pengguna pernah terjatuh hingga mengalami luka dan patah tulang.
“Pernah warga jatuh di sini, bahkan cukup sering. Ada yang keseleo, ada yang luka, bahkan ada yang patah. Kadang sampai jatuh ke bawah sungai. Namun sampai saat ini belum ada yang meninggal,” jelasnya.
Ia juga menyebut terdapat rencana pembangunan jembatan permanen pada tahun ini. Warga berharap rencana tersebut dapat segera direalisasikan, terutama menjelang musim hujan.
“Kami selaku masyarakat sangat berharap sekali, apalagi akan menghadapi musim hujan. Tentunya mobil tidak bisa lewat ketika banjir. Harapan kami mudah-mudahan tahun ini terealisasi jembatan beton,” harap Karnilas.
Sementara itu, pedagang ikan keliling asal Pekon Tanjung Jati, Helmi, mengatakan kerusakan jembatan membuat aktivitasnya terganggu. Sebelum rusak, ia rutin menggunakan jembatan tersebut untuk berdagang.
“Biasanya saya lewat sini setiap hari. Sebelum rusak sering sekali lewat jembatan ini. Tapi semenjak rusak, saya tidak pernah lagi lewat sini dan memilih lewat jalur air,” kata Helmi.
Menurutnya, jalur alternatif tersebut menjadi persoalan ketika sungai mengalami banjir.
“Kalau banjir bukan pernah lagi, jadi kalau banjir lewat mana lagi? Tidak ada jalan lagi,” ujarnya.
Helmi menyambut baik perbaikan yang dilakukan Polres Tanggamus dan berharap jembatan kembali aman digunakan masyarakat.
“Terima kasih kepada Polres Tanggamus yang sudah memperbaiki jembatan ini,” tandasnya.
Renovasi tersebut diharapkan membuat akses warga antara Pekon Tanjung Raja dan Pekon Tanjung Jati kembali lebih aman, terutama dalam menghadapi musim hujan dan kondisi banjir. (adi/rls)

0 Komentar