Instruksi.co.id, Bandarlampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pembentukan National Cassava Center atau Sentra Pengembangan Singkong Nasional menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem singkong yang terintegrasi, mulai dari riset, teknologi, industri hingga peningkatan kesejahteraan petani, Sabtu, 25 Juli 2026.
Menurut Gubernur, keberadaan National Cassava Center bukan sekadar pusat riset, tetapi menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, investor, dan petani untuk memperkuat daya saing komoditas singkong nasional.
"Ini bukan sekadar peresmian sebuah lembaga riset, tetapi titik awal membangun ekosistem pengembangan singkong yang terintegrasi, sehingga ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, industri, dan kesejahteraan petani dapat berjalan bersama," ujarnya.
Rahmat mengatakan Provinsi Lampung memiliki potensi besar karena menyumbang sekitar 70 persen produksi singkong nasional dan menjadi sumber mata pencaharian ratusan ribu petani.
Namun, selama bertahun-tahun pengembangan singkong dinilai belum didukung ekosistem yang kuat. Akibatnya, produktivitas masih tertinggal dibandingkan negara produsen seperti Thailand dan Vietnam yang lebih maju dalam pengembangan riset, teknologi, serta hilirisasi industri.
Ia juga menyoroti fluktuasi harga singkong yang selama ini menjadi persoalan utama petani. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Lampung telah memfasilitasi dialog antara petani, pelaku industri, dan pemerintah pusat sehingga menghasilkan kesepakatan yang berdampak pada meningkatnya harga jual singkong.
"Saat ini harga singkong telah mencapai sekitar Rp2.200 per kilogram. Ke depan tantangannya bukan hanya menjaga harga, tetapi meningkatkan produktivitas agar mampu bersaing di tingkat global," katanya.
Melalui National Cassava Center yang dikembangkan bersama Universitas Lampung, pemerintah akan mendorong pengembangan varietas unggul, mekanisasi pertanian, inovasi teknologi budidaya, hingga hilirisasi produk berbahan baku singkong.
Rahmat berharap Lampung tidak hanya menjadi daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi pusat pengembangan singkong nasional yang mampu memperkuat industri berbasis bioekonomi serta meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.(Ton/rls)
.jpg)
0 Komentar