Instruksi.co.id, Pringsewu – Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas menekankan pentingnya pencegahan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Menurutnya, dampak perundungan tidak hanya dirasakan anak saat masih bersekolah, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis hingga dewasa.
Hal tersebut disampaikan Riyanto saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendampingan, Penanganan, dan Pencegahan Kekerasan, Perundungan, serta Intoleransi Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tahun 2026 di Hotel Urban Pringsewu, Kamis (15/10/2026).
Riyanto menjelaskan, berdasarkan teori perkembangan psikososial Erik Erikson, anak usia 6–12 tahun berada pada tahap industry versus inferiority, yakni fase ketika anak membangun rasa mampu, percaya diri, dan keyakinan terhadap kemampuannya.
Pada fase tersebut, anak yang terus-menerus direndahkan, diejek, atau dikucilkan berisiko mengalami rasa rendah diri yang dapat terbawa hingga dewasa.
Ia juga mengutip penelitian mengenai dampak jangka panjang perundungan terhadap kesehatan mental. Menurutnya, penelitian yang disampaikan tersebut menunjukkan bahwa korban perundungan pada masa kecil lebih rentan mengalami depresi dan kecemasan hingga usia dewasa.
“Data menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental Gen Alpha jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, di mana pada Gen X angkanya 15 persen, generasi Milenial 23 persen, Gen Z 42 persen, dan pada Gen Alpha mencapai 48 persen. Artinya, masalah kesehatan mental pada Gen Alpha 3,2 kali lebih tinggi dibandingkan Gen X,” kata Riyanto.
Bupati menyebut anak-anak generasi Alpha tumbuh di tengah perkembangan teknologi, gawai, dan media sosial yang menghadirkan tantangan tersendiri. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian orang tua dan tenaga pendidik, terutama dalam mencegah perundungan, baik secara langsung di sekolah maupun melalui ruang digital.
Menurutnya, perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari ejekan, pengucilan, hingga kekerasan fisik dan tindakan yang menyakiti orang lain melalui media sosial.
Karena itu, Riyanto menegaskan bahwa orang tua dan guru memiliki peran penting dalam mendampingi anak, membangun kepercayaan diri, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan mereka.
“Orang tua dan guru adalah busur yang harus kokoh, agar anak panah meluncur lurus menuju masa depannya. Untuk menjadi busur yang kokoh, tentu dibutuhkan peran semua pihak. Sehingga pelatihan adalah sebuah cara bagaimana kita perlu belajar agar dapat merespons dan bertindak sesuai tantangan pengasuhan dan pembelajaran masa kini,” ujarnya.
Upaya tersebut sejalan dengan pentingnya pendidikan karakter dan pembinaan siswa di lingkungan sekolah. Sebelumnya, Instruksi.co.id juga memberitakan kegiatan Police Goes to School, Satlantas Pringsewu Edukasi Pelajar soal Keselamatan Lalu Lintas, yang menjadi salah satu bentuk edukasi bagi pelajar di Kabupaten Pringsewu.
Riyanto mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mewujudkan Kabupaten Pringsewu yang bebas dari perundungan. Ia berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, serta mampu saling menghargai perbedaan.
Menurutnya, lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan menjadi salah satu faktor penting dalam mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045.
Kegiatan bimtek tersebut diikuti kepala SMP negeri dan swasta dengan menghadirkan narasumber dari Pemerintah Kabupaten Pringsewu, Polres Pringsewu, dan Kejaksaan Negeri Pringsewu.
(Hikmah/Ton)

0 Komentar